Kenapa Tabung Bahan Bakar Roket Tiongkok Baru Jatuh 10 Tahun Setelah Peluncurannya?

Warga sekitar Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, dikejutkan benda yang jatuh dari angkasa, Selasa (18/7) pagi.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, saat dihubungi dari Padang, mengaku sudah mengetahui kejadian tersebut.

Menurutnya, Lapan menangkap lintasan orbit benda tersebut sebelum jatuh.

“Dalam hitungan orbit, objek tersebut memasuki atmosfer Sumatra Barat pukul 09.09 WIB,” ujar Thomas.

Setelah ditelusuri, ia mengatakan bahwa benda tersebut ternyata merupakan komponen tabung bahan bakar roket buatan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

“Itu bagian tabung bahan bakar roket RRT Longmach/Chang-Zheng 3 yang digunakan untuk meluncurkan satelit navigasi Beidou M1 pd 13 April 2007,” tambahnya.

Diperkirakan, benda tersebut berbentuk kendi berbidang lonjong, dengan ukuran 110 cm x 55 cm dengan berat 7,4 kg.

Saat ini, benda tersebut berada di tangan kepolisian setempat.

Thomas menjelaskan, semula benda tersebut berukuran besar. Namun, saat masuk atmosfer pecah.

“Sebagian mungkin jatuh di laut atau hutan,” ujarnya.

Dia mengungkapkan benda tersebut tidak berbahaya, tetapi perlu dihindari kontak langsung, karena biasanya masih ada bahan tersisa.

“Tim dari Lapan Agam akan ke lokasi. Objek tersebut akan diambil oleh Lapan untuk penelitian lebih lanjut,” pungkasnya.

Kenapa Baru Jatuh 10 Tahun Setelah Peluncurannya?
Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan, roket Chang Zheng 3-A memiliki orbit yang lonjong dengan ketinggian 10.000 Km. Setelah sampai di orbit, benda itu mengelilingi Bumi.

Saat berada pada ketinggian 10.000 km, gravitasi bumi tak begitu bekerja. Bagian roket itu mengorbit bumi seperti halnya satelit dan benda langit kecil lainnya. Jadi memang tak setiap benda yang ada di sekitar bumi akan langsung jatuh turun.

Penurunan ketinggian bagian roket itu, menurut Thomas, terjadi karena pengaruh gesekan. Makin lama, orbit puing itu akan makin rendah.

Pada ketinggian 120 km, sebuah obyek tak bisa lagi mengelak dari gravitasi bumi. “Dia masuk ke atmosfer padat dan jatuh,” katanya.

Thomas mengatakan, seluruh benda yang mengorbit bumi selalu melintasi ekuator. Dalam satu kali orbit, benda antariksa melintasi ekuator dua kali pada titik yang berseberangan.

Oleh karena itu, kemungkinan jatuhnya sampah antariksa di ekuator menjadi lebih tinggi.

“Jatuhnya bisa di mana pun di permukaan bumi. Karena inklinasinya 54 derajat dan wilayah ekuator menjadi wilayah yang selalu dilewati oleh obyek yang mengorbit bumi, maka dia bisa jatuh di Indonesia,” ujar Thomas.

Sumber:

  • http://mediaindonesia.com/news/read/113466/tabung-bahan-bakar-roket-tiongkok-jatuh-di-danau-maninjau/2017-07-18
  • http://sains.kompas.com/read/2017/07/18/214504723/-kendi-roket-china-kenapa-baru-jatuh-10-tahun-setelah-peluncurannya-

Masukkan kata kunci pencarian pada kotak pencarian di atas, kemudian tekan Enter. Atau tekan Esc untuk keluar.

 

.:: COMING SOON ::.