Mengenal Ragam Jenis Ulos di Museum Tekstil

Yayasan DEL bekerjasama dengan Tobatenun menginisiasi kegiatan pelestarian budaya Batak dalam bentuk pameran kain Ulos. Bertajuk Ulos, Hangoluan dan Tondi, pameran ini diadakan selama 14 hari, mulai tanggal 20 September sampai 7 Oktober 2018, di Museum Tekstil, Jakarta.

Hangoluan sendiri memiliki arti sebagai Kehidupan. Sedangakan Tondi berarti Jiwa. Hal ini menggambarkan kain Ulos yang merupakan kehidupan dan jiwa masyarakat Batak. Ada sekitar 50 kain ulos yang dipamerkan. Untuk menarik minat anak muda, Pameran Ulos ini juga berkolaborasi dengan desain interior muda Indonesia, Mita Lukardi.

Kain-kain ulos dipamerkan lengkap dengan instalasi dekor yang menceritakan secara detil mengenai tahapan kehidupan. “Salah satu instalasi modern yang ada di pameran adalah motif Ulos yang tertuang di anyaman rotan sepanjang 25 meter,” kata Devi Pandjaitan salah satu inisiator Pameran Ulos

Supervisor Pameran Ulos, Akbar Maulana menuturkan, pameran ini terselenggara atas inisiatif ibu dan anak, yakni Devi Pandjaitan dan Kerri Pandjaitan. Keduanya adalah istri dan anak dari Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. “Ini semua koleksi punya Bu Devi, dan umur kainnya tidak ada yang di bawah 50 tahun. Sudah tua semua,” kata Akbar saat ditemui di Museum Tekstil, Jakarta, Minggu (23/9).

Pameran ini pertama kalinya digelar di Museum Tekstil. Yayasan DEL sendiri merupakan organisasi yang mengoptimalkan peranan pemuda dan lembaga sosial bidang budaya. Sedangkan Tobatenun adalah organisasi untuk pemberdayaan perempuan yang fokus pada revitalisasi dan produktivitas tekstil khususnya tenun ulos.

“Konsep pameran ini stages of life, perjalanan kehidupan. Jadi penggunaan ulos dari kita lahir sampai mati itu ada jenisnya. Dari birth (lahir), life (hidup), marriage (menikah), dan death (mati),” jelas Akbar.

Keragaman jenis dan penggunaan kain ulos yang tidak sembarangan tersebut membuat pameran ini juga sebagai ajang edukasi bagi masyarakat awam. Karena memang tujuan awal dari Pameran Ulos ini untuk lebih memperkenalkan ulos kepada masyarakat, agar lebih tahu budaya kita. Karena ternyata jenis ulos banyak sekali penggunaannya, tidak bisa sembarangan dipakai, bahkan tidak boleh salah tempat. Misal, di acara pernikahan, jangan sampai pakai ulos untuk kematian.

Selain itu, target Pameran Ulos ini juga agar masyarakat lebih tahu dan peduli pada kebudayaan Batak yang tercermin dalam keragaman kain ulos. Terutama bagi kalangan anak generasi millenial.

“Harapannya budaya Batak bisa lebih dilestarikan oleh anak-anak muda, agar adat istiadat Batak jadi turun temurun, tidak hilang. Penenun sekarang semakin sedikit, jadi ini memotivasi anak muda untuk lebih belajar menenun ulos dan melestarikan ulos, dan budaya Batak itu sendiri,” kata Akbar.

Sumber: https://pesona.travel/inspirasi/446/mengenal-ragam-jenis-ulos-di-museum-tekstil

Masukkan kata kunci pencarian pada kotak pencarian di atas, kemudian tekan Enter. Atau tekan Esc untuk keluar.

 

.:: COMING SOON ::.